Kisah Sutomo Penjaga Makam Cina Mumbul



Sutomo Penjaga Makam Cina

Pemakaman mungkin mendengar katanya saja bulu kuduk akan berdiri, lalu bagaimana jika anda berkecimpung dalam pekerjaan ini, mungkin anda akan menolak dan menghindar jauh-jauh dari tempat tersebut. Sutomo (56) pria yang akrab di panggil Tomo asal Banyuwangi ini adalah kesekian orang yang nekad mengambil pekerjaan di area pemakaman cina Mumbul (Jl. Bay Pass Ngurah Rai).

Diawali dengan  mendapat tawaran Yayasan Kertha Samadhi menjadi pengurus tanah pemakaman, Sutomo tanpa berpikir panjang langsung menerima dengan senang hati. Berbekal  kebranian yang memang telah di miliki sejak kecil “dulu waktu di Banyuwangi saya sering diundang ketempat angker, entah itu untuk bersemedi atau sekedar kumpul” kenang Sutomo.

Sutomo Memeriksa Mesin Kremasi

Pemakaman Cina yang memiliki luas 400 are di akui ayah dua orang anak ini sebagai tempat mengepulkan asap dapur  keluarganya. Tidak mudah memang bekerja dan harus terjaga seharian namun menurut Sutomo pekerjaan yang ia geluti lebih baik dari pekerjan sebelumnya. Pekerjaan yang dilakoni di area pemakanman mulai dari menyapu, merawat makam, menjaga makam, membersihkan dan masih banyak lagi.

Terkadang Sutomo juga mendapat uang tambahan dari beberapa pengunjung yang datang untuk bersiarah maupun menitipkan makam kepada Sutomo, mulai dari 50rb-100rb, akan tetapi tak jarang juga Sutomo hanya menerima Rp.5000 untuk kerja kerasnya. Namun menurut sutomo semua pekerjaan harus dilakukan dengan iklas tanpa pamrih karna pastinya suatu kerja keras akan mendapat imbalan dari yang kuasa ungkapnya pada Balistories.ga.


Sutomo mengaku selama dia bekerja dipemakan mumbul ia tidak pernah mendapat gangguan dari penghuni makam, hanya saja Sutomo kerap melihat penamkan orang yang menggunakan pakaian ala cina berjalan di sekitar makam. Namun  hal mistik tersebut tidak pernah melunturkan mental dan semangat sutomo dalam melakoni profesi yang menguji kebranian tersebut. Dipenghujung doa ia berharap agar sealu sehat dan tetap bisa bekerja dengan baik, walau kini usianya terbilang setengah abad lebih, ia berharap masih bisa bekerja untuk kehidupan keluarga.Ov.L

Comments

Popular posts from this blog

4 Langkah Mengubah Kekalahan Menjadi Kemenangan

Mengintip Kesuksesan Pengusaha Kaya Eric Usthavia Frans

Ajeg Bali Dalam Pentas Budaya Anak-anak Puputan Badung