Emosi yang Berlebihan? dan Bagaimana Menyikapinya
Sekian lama saya tidak posting akibat kerja serabutan yang
menyita waktu dan perasaan saya hehehe, tapi sekarang semua berakhir sudah,
sekarang saya bebas menyuarakan aspirasi saya dan langsung aja ya baca blog hari ini. Cussss J
Saya merasa ada gejolah emosi yang saya pendam, tapi kok
saya tidak dapat menemukan akar masalahnya ya... atau saya sudah mulai mati
rasa sama semua hal yang terjadi dalam hidup saya. Wah... jika benar begitu
bahaya saya bisa terkena sindrom Arogansi (saya karang lho, jangan percaya
ya..). Tapi ini serius ada sebagian orang yang punya gejala seperti saya,
ketika mereka marah tanpa menemukan akar masalahnya dan kadang-kadang memang
tidak tau masalahnya apa. Mereka berubah menjadi depresi terutama ketika mereka
dilanda masalah kecil, salah satu sahabat saya mengalaminya, dan saya
juga....!!! tapi bukan berarti saya adalah orang yang emosian lho, emosi yang
saya maksud disini emosi yang tidak dapat dikeluarkan dengan mudah seperti
orang2 pada umumnya, emosi ini hanya dapat dipendam.
Kabar buruknya itu sudah saya derita bertahun-tahun ketika
saya masih SMP. Mungkin dalam medis kejiwaan, sakit ini ada istilahnya tapi
saya tidak tahu ya, yang jelas saya cuma bisa merasakannya. Selain depresi, hal
ini dapat membuat penurunan prestasi pada seseorang, bahkan ada saja keinginan
untuk mengakhiri hidup (hehehe jujur saya pernah berfikir seperti itu dulu), merasa
tidak berguna, dan masih banyak lagi.
Alhasil karena saya sudah tidak kuat saya mencoba mencari
cara untuk membasmi gejolak ini. Saya mulai gali dari buku, internet, mendengar
dari orang2 yang pernah mengalami kejiwaan tanpa saya pernah mengatakannya pada
orang itu, jujur ya saya dulu tidak percayaan sama orang, dan sekarang saya
mulai belajar perlahan2 mengubah itu, tapi masih ada rasa penyesalan jika saya
menceritakan sama orang lain, soalnya kadang-kadang orang yang saya ajak cerita
pura2 tau rasanya menjadi saya “Saya
mengerti perasaanmu” ya begitu katanya. Kembali lagi ya saya sudah belajar
banyak hal dari berbagai sumber tapi hal itu masih mengganjal hingga saya putus
asa.
Disaat seperti itu saya punya inisiatif untuk bicara dan
ngobrol dengan diri saya, emang agak aneh sih tapi hal ini sedikit membantu. Ketika
saya bertanya pada diri saya, diri saya yang lain menjawab dan itu saya
usahakan menjawab dengan jawaban yang positif, seperti “apa aku orang paling
gak berguna sedunia ini ya ?” trus saya yang lain bilang “ kok kamu ngomong
kayak gitu sih, ah pasti kamu sedang membandingkan dirimu sama orang lain ya,
ya ampun pik kamu bodoh kalok kamu nganggep dirimu gak sebanding dengan mereka,
malah kamu harus buktikan kamu ini berbeda dan spesial “ kata saya yang lain
sambil liat kaca wkwkwkw, atau bisa juga diganti bercerita sama Tuhan Yang Maha
Esa contoh “Tuhan aku suka loh sama si A soalnya dia ganteng, baik hati juga,
buktinya tadi pas aku nyemplung selokan dia buru2 tolongin aku, kalok dia jodoh
ku dekatkanlah kalok bukan jodohkanlah dan Nikahkanlah amin ” pokoknya ya begitu. saya juga alihkan perasaan itu dengan membaca novel cinta2an intinya
agar pikiran negatif teralihkan, dan ingat satu lagi yang pamungkas bersyukur,
gak bosen2 saya bilang agar terus bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang.
Nah sekiranya itu kisah saya semoga dapat menjadi secercah pengalaman
yang bermanfaat bagi teman2 semua terutama yang mengalami hal seperti saya,
kalok ditanya masihkah ada rasa itu, yah masih tapi gak sebesar dulu, karena
saya merasa semakin lama saya semakin punya pengertian dan bisa maklum sama
kejadian buruk yang saya alami ibaratnya jadi lebih berlapang dada, selain itu
kayaknya ini juga akibat faktor U deh yang semakin bertambah hehehe, ok deh
sampai disini dulu ya blog saya See u next time

Comments
Post a Comment