PEREMPUAN ITU MELIHATKU


HOROR
Bulan purnama bersinar sempurna menerpa permukaan pertiwi, dua anak gadis terlihat tertidur lelap di teras rumah dengan beralaskan tikar, sepertinya mereka sudah terbiasa tidur disana. 

Rumah sempit dari bahan batu alam itu sangat mungil didalamnya hanya ada satu kamar, di barat rumah terdapat dapur yang dianyam dengan daun kelapa, prabotannya terpajang rapi di bagian utara dekat kendi air yang terbuat dari tanah liat ada juga tugu tempat pemujaan keluarga. 

Ibu sudah terlebih dahulu terlelap didalam rumah. Jangkrik mulai mengalunkan musik malam. Gadis sulung terjaga, beberapakali menguap dan menggosok mata yang masih terasa berat. Udara dingin menerpa ia hendak beranjak masuk kedalam rumah. namun sebelum itu perutnya agak sedikit mulas. segera dituntaskan panggilan alamnya

Belum sempat sempat naik kerumah ia mendengan suara mengeram yang halus, awalnya iya menganggap itu dengkuran halus sang adik, suaranya semakin cepat ia sedikit takut namun cepat naik ke atas rumah namun betapa kaget bukan kepalang adiknya sudah tidak, ia mulai melihat sekelilingnya penasaran dengan suara itu.

Kemudian penglihatannya beralih kedapur yang hanya beberapa langkah dari tempat mereka tidur.  

Ketika menoleh ke Utara, ia kaget bukan kepala, sesosok wanita berambut panjang dengan gaun putih panjang menutupi sekujur tubuh, sosok ini duduk disebelah kendi air, wajahnya hampir tertutup rambut namun masih terlihat samar-samar. Wajahnya pucat dengan mata yang melotot, kemudian tesenyum memperlihatkan gigi-gigi runcing kemerahan


Seketika Gadis itu tidak dapat bergerak dan berteriak karena ketakutan. Sosok itu masih diam mengamati gadis itu, namun tiba-tiba kekuatan gadis itu seakan-akan bertambah, dipaksanya untuk berdiri dan melangkah mengetuk pintu rumah sambil berkata “ Meme, meme bukak jep jelanne me (ibu.. ibu bukak sebentar pintunya bu)”, tak berselang lama seorang wanita membuka pintu dan berkata dengan lembut “ engken tut?” ibu gadis itu keheranan melihat ekspresi anaknya, yang tidak biasa. “meme tiang takut me ade anak ditu negak, paek gebehe (ibu saya sakut bu ada orang yang duduk di dekat kendi air )” kata gadis itu sambil memeluk ibunya “ seng ade ape ditu tut (tidak ada apa-apa tut)” ujar ibunya sambil mengamati area dapur “tiang takut me(saya takut bu)” gadis itu memeluk ibunya semakin erat, “mai ajak meme sirep ditengah, ajak nyoman bareng masih (sini sama ibu tidur sekalian ajak adikmu nyoman juga)” kata sang ibu sambil menuntun putri sulungnya. Ketika mereka masuk gadis itu tidak menoleh lagi dan segera menutup pintu rapat-rapat.


Comments

Popular posts from this blog

4 Langkah Mengubah Kekalahan Menjadi Kemenangan

Mengintip Kesuksesan Pengusaha Kaya Eric Usthavia Frans

Ajeg Bali Dalam Pentas Budaya Anak-anak Puputan Badung