Goresan Duryodana


Oleh: Ovit.l

Namaku Duryodana, jiwa yang terbelah-belah di dalam kanvas. Terkadang aku adalah pemenang dan terkadang menjadi korban kekalahan. Namaku Duryodana, Bapak mengambil nama ini dari salah satu tokoh antagonis Mahabharata, dan rasanya aku sedang memerankan tokoh ini sekarang. Beberapa orang kerap bertanya kenapa namaku bukan Arjuna, Darmawangsa atau tokoh pewayangan protagonis, tapi justru nama tokoh kejam dan rakus. Ketika pertanyaan itu muncul seperti hari ini, aku hanya menjawab “Entahlah mungkin Bapak menganggapku lelucon” kataku cuek, “Hush Bapakmu itu tidak pernah memberikan nama asal-asalan pada anak-anaknya, Pak De tau dia itu keras tapi dia menyayangi semua anaknya” kata Pak De. Rumah Pak De ada di Kabupaten Tabanan, jarak dari Kota ke Desa berkisar 30 km. Desa ini bernama Sambuk Gading, desa yang penuh filosofi, begitu indah dan makmur, tradisi masih sangat kuat disini. Pandanganku beralih pada 1subak yang terhampar luas, air subak begitu jernih, belum ada padi yang tumbuh disana. Ada juga beberapa orang yang masih melakukan kegiatan 2matekap di sawah. Jika matahari mulai condong tibalah anak-anak dusun berkumpul sambil bermain  di pematang sawah,  terkadang mereka melantunkan tembang  3sekar alit ketika kembali pulang.
Pak De adalah kakak dari Bapak, beliau tidak memiliki anak, karena itu Pak De sangat menyayangiku. Pak De adalah orang yang ramah dan menyenagkan berbeda dengan Bapak keras dan disiplin, maklum Bapak adalah salah satu anggota TNI. Bapak merupakan Komando Kewilayahan Pertahanan di Provinsi Bali, NTT, dan NTB. Beliau sangat loyal terhadap tanah air. Berbagai lencana telah disematkan sebagai prestasi. Namun meskipun Bapak memiliki berbagai prestasi, aku belum menemukan sosok Bapak yang kurindukan.
“Istirahatlah Duryodana, nanti sore Pak De akan mengantarmu pulang ke Kota” kata Pak De, “Tidak pak, Dana suka disini lebih tenang” balasku, “Mau sampai kapan kau disini, Meme dan Bapakmu pasti cemas” ujar Mek De yang datang dari dapur sambil membawa kopi dan teh beras merah untukku. Ku ambil secangkir teh, ku sruput, “Sss aduh panas”  lidah ku melepuh, kemudian teh ku sruput lebih pelan. “Sampai semua membaik” balasku “Bagaimana bisa membaik jika tidak diselesaikan”
Pak De benar, aku selalu kabur dari setiap masalah di rumah, bagai seorang pengecut yang kalah sebelum perang. Samar-samar bayangan memori tempo hari kembali mengusik. Bapak saat itu meradang, karena aku masih saja membandel untuk tidak menyentuh alat lukisku. Bapak mengancam akan membakar semua lukisanku, jika aku tidak berhenti melukis. Bapak memang sensitif jika soal seni,  Bapak begini semenjak Doni meninggal 5 tahun yang lalu.
Doni adalah kakakku, seorang seniman muda yang berbakat. Dia salah satu pelukis panutanku, karyanya begitu indah, namun Bapak tidak dapat menyadari hal itu, bahkan saat ajal Doni tiba. Doni mengajariku banyak hal, dan untuk ukuran seorang kakak, dia cukup dapat diandalkan. Namun entah kenapa kakak pergi dan memilih jalan lain yang bertentangan dengan Bapak, terakhir kami bertemu ketika dia dimakamkan.  Dia ditemukan tewas akibat over dosis 4morfin di kamar hotel, dan saat itu dia baru menyelesaikan lukisan terakhirnya. Lukisan seorang wanita cantik berambut pirang, matanya biru laut. Aku sempat melihat lukisan itu di rumah, namun lukisan itu hilang, entah kemana Bapak membuangnya, yang jelas sejak itu Bapak selalu naik pitam jika aku membicarakan apapun tentang seni, dengan kata lain seni selalu menjadi topik panas dirumah kami.
“Kamu mau jadi apa kalau hanya belajar seni, seniman itu tidak punya masa depan, kamu mau seperti kakakmu!” hardik Bapak sambil memukul meja, “Seni tidak bisa di ukur dengan materi pak!, Dana ini bukan Doni, Dana mohon Pak, biarkan Dana melukis” aku memohon pada bapak, namun bapak semakin marah padaku, “Kamu sudah berani membangkang, kalau Bapak bilang berhenti ya berheti, jangan membantah. Jika kamu tidak suka Bapak akan bakar semua sampah ini, kau kira apa yang kau nikmati saat ini asalnya dari seni!” Bapak menunjuk lukisanku yang tercecer, “Bapak tidak bisa memperlakukan Dana seperti ini, Dana ini manusia Pak!, aku ini anakmu!, aku juga punya hak untuk menentukan kehidupanku!”, “Brengsek, kau ingin bapak cepat mati ya!, pokoknya sekali tidak ya tidak, kalau kau tetap membangkang bapak sendiri yang akan menghabisimu!” Saat itu terakhir kali kulihat Bapak, Meme hanya menangis di dalam bilik sambil menggendong Gita adikku. “Ini kutukan” batinku. Segera ku rogoh ransel untuk mengambil buku gambar dan pensil, goresan demi goresan ku ciptakan hingga membentuk parit, sungai dan gunung. Ini caraku menenangkan jiwa dengan seni yang telah mendarah daging ditubuhku.
***
Aku berada di ruang Club Seni SMA Bhineka. Aroma cat dan debu pada kanvas sudah tak asing lagi bagiku, pikiranku kacau. Sudah seminggu tak kulihat wajah Meme yang aku sayangi. Aku juga rindu adik kecilku, Gita, usianya baru 4 tahun. Aku membayangkan mencubit pipinya yang tembem dan mengajaknya menggambar bunga kamboja di halaman. Tiba-tiba sosok Bapak terlintas dibenakku. “Hmm” nafasku berat ketika membayangkan sikap Bapak “Sial” hardikku. Sekali lagi aku kalah dan bersembunyi. Aku tertegun menatap lukisan yang baru kuselesaikan, tiba-tiba Bondan ketua Club seni masuk dengan buru-buru, ekspresinya nampak kelelahan “Dana  kucari-cari ternyata kau disini!, aku punya dua kabar untukmu nih” kata Bondan menghelai nafas, “Ada apa?”aku mengangkat alisku, “Ini kabar baik dan buruk, kau mau dengar yang mana dulu?” kata Bondan memperlihatkan dua jari tangannya, “Karena suasana hatiku sedang buruk aku mau dengar yang baik dulu” kataku masih melukis. Ia memberiku selebaran, aku mulai membaca selebaran yang dibawa Bondan “Lomba Hardiknas: The Star Painting Of The Year 2018” aku mengulang isi selebaran. Mataku berbinar, kompetisi yang aku tunggu akhirnya hadir juga, kompetisi bergengsi yang diadakan oleh PT Bank Negara Star Asia.  Pemenang lomba akan mengikuti program Residen Fukuoka Asia Art Museum di Jepang selama satu bulan. Aku menatap Bondan, kami berdua tersenyum. “Akhirnya Bon” aku berdecak kegirangan “Iya kabar baiknya sekolah memilihmu sebagai perwakilan” Bondan tersenyum, aku hampir memeluk Bondan jika ia tidak buru-buru mencegahku “Tapi… kabar buruknya, sekolah sepertinya akan membatalkan hal ini” aku terkejut “Maksudmu?” “Aku dapat kabar dari Pak Surya pembina Club kita, bahwa kau akan pindah sekolah” “Pindah?!” Aku tercengang. Sepertinya Bapak tidak main-main dengan ancamannya. Bapak ingin membunuh mimpiku menjadi seniman hebat di Indonesia “Kau serius tidak tahu soal ini? kemarin Bapakmu datang ke sekolah membawa surat kepindahanmu, aku rasa..” belum Bodan menyelesaikan ucapannya, aku segera menuju parkir kuambil motorku dan melesat pergi tanpa menghiraukan teriakan Bondan.
***
Aku pergi ke Gedung Kodam XI/Garuda, kulihat Bapak sedang memberi arahan pada bawahannya, tanpa menunggu aku berseru pada Bapak “Pak Sudama kita harus bicara” seluruh anggota TNI yang hadir di lapangan terkejut, wajah bapak terlihat merah padam, segera lenganku diseret menuju ruangannya, cengkraman Bapak begitu kuat, lenganku serasa nyeri dibuatnya “Kurang ajar dasar anak setan!, kenapa kau datang kesini, belum puas kau bikin bapak marah di rumah hah! sekarang kau bikin Bapak malu!” Bapak mendorong lenganku, aku sedikit kecut namun kuberanikan diri untuk menjawab “Bapak sendiri yang mengusikku, mengapa bapak mengajukan surat pindah pada kepala sekolah” “Dana Bapak sudah cukup sabar denganmu, Bapak tidak mau kau jadi seniman!, jika kau jadi seniman lebih baik kau tak sekolah sekalian” aku terdiam, lututku gemetar, hatiku hancur, “Pergi dari sini!” kata bapak hendak berbalik, aku berlutut dihadapan Bapak “Pak, Dana mohon” Air mataku berlinang, suaraku bergetar “Dana mohon berikan dana satu kesempatan Pak, satu kesempatan untuk sekolah, dan ikut satu kompetisi yang Dana impikan, setelah itu….Dana akan turuti semua keinginan Bapak, termasuk berhenti melukis untuk selamanya” aku menahan emosiku, “Dana Mohon” ku ulangi kata itu berulang-ulang, Bapak hanya terdiam, sesaat kemudian, “Hmm baik! Tapi setelah ini tidak ada urusan seni lagi, paham! dan kau harus pulang” Bapak meninggalkanku, dengan membanting pintu. Aku hampir tak percaya Bapak memberi ijin padaku, kuhapus air mataku dan beranjak keluar.
***
Tiga minggu lamanya aku mendapat pembinaan dari Pak Surya. Selama itu aku tidak pernah pulang kerumah Pak De, aku tinggal di ruang Club. Aku butuh ketenangan, Bapak tak pernah mengusikku lagi namun aku yakin setelah ini Bapak akan menuntut janjiku. Meme kerap menelpon dan mengirimkanku makanan yang dititip pada Bondan, atau teman Club seniku. Sebentar lagi Lomba Hardinas akan dimulai tepatnya besok, malam ini entah kenapa hatiku sedikit gelisah. Mataku mulai mengantuk samar-samar ku lihat bayangan Doni mendekat sambil tersenyum, suaranya tak terdengar hanya saja ia terus mengatakan sesuatu “Doni…” teriakku memecah kesunyian, jam masih menunjukan pukul 3 pagi, peluhku menetes, aku tak dapat memejamkan mata lagi, kuputuskan untuk melukis agar perasaanku lebih tenang.
***
Pagi menyingsing, sinar mentari memasuki celah-celah ventilasi, mobil dan bus silih berganti berdatangan. Gedung Bahasa Denpasar sudah dipadati seniman dari seluruh perwakilan sekolah SMP, SMA, dan Universitas di seluruh Indonesia. Tak dapat kuanggap remeh beberapa pelukis senior yang kukenal ikut serta dalam kompetisi ini, mereka adalah seniman-seniman kondang,  karyanya telah diakui secara Nasional. Hatiku semakin berdebar. Pak Surya menepuk bahuku dan tersenyum, tangannya mengepal seakan mengingatkanku untuk tetap kuat. Aku mulai tenang, kutarik nafas. Sesaat kemudian panitia memulaikan acara. Sekilas semua memori pahit terlintas silih berganti dibenakku, Doni, Bapak, dan semua tokoh dalam hidupku berputar hebat dipikiranku. Kutorehkan dengan mantap melalui kuas, rasa sakit dan luapan emosi, kemudian ku ekspresikan dengan warna-warni cat diatas kanvas. Aku menyebut seniku ini “Lembu”, lembu yang berusaha untuk melawan majikannya, lembu yang berusaha bebas dari keberadaan manusia pengekang. Lembu bertaring dengan tiga orang anak yang berada diperutnya, menggambarkan tiga jiwa dalam kurungan, penuh pengorbanan.  Hingga durasi waktu terhenti. Seluruh lukisan dikumpulkan. Kami masih harap harap cemas karna pengumuman pemenang akan diumumkan seminggu lagi. Pak Surya mengantarkan kami kembali pulang.
***
Aku harus kembali pulang, ini sudah perjanjianku dengan Bapak. Pak De memelukku dengan erat, dia turut sedih karena tidak dapat berbuat apa-apa untukku. Kucium tangan Mek De dan melesat pergi denga motorku. Aku selalu mengingat Doni sejak mimpiku kemarin, pikiranku tak tenang, ketika hendak menikung, sebuah mobil sedan melintas didepanku, sontak aku terkejut, kami tak bisa mengelak dari tabrakan, aku terpental, tubuhku memberntur pohon dengan keras, dan akhirnya semua gelap.
***
“Kak Doni?” aku berada disebuah ruangan putih yang tak terlihat ujungnya, aku melihat sosok Doni, ku ikuti langkahnya menuju cahaya “Duryodana adikku, jangan! Antar aku sampai disini saja” kata Doni menoleh padaku “Don kau mau kemana? aku ikut, aku tak ingin kembali kerumah” Doni menggeleng “Dana tempatmu bukan disini, pulanglah, katakan pada Bapak untuk memajang lukisan wanita yang kubuat, di ruang tamu. Katakan pada Bapak dan Meme aku sangat mencintai mereka, dan untukmu tetaplah semangat mengejar impianmu. Jangan menyerah jadilah pejuang yang sukar untuk ditaklukkan, seperti namamu Duryodana. Kelak kau akan menjadi pelukis hebat seperti Raden Saleh, Basuki Abdulah, Delsy Syamsumar dan pelukis lainnya, kau akan mengharumkan nama Indonesia jaga dirimu kutitip seseorang padamu” Doni menghilang, ruangan menjadi gelap, sunyi. “Dana.. maafkan Bapak, bangun nak, Duryodana….” kudengar raungan setiap orang memanggil namaku, terutama suara Bapak. “Dimana aku” Batinku, aku berada diruangan putih, namun sangat berbeda dengan yang tadi. “Dokter cepat kemari ! anakku sudah siuman, hei kalian dengar tidak!” bentak Bapak. Bapak, Meme, Gita, Pak De dan Mek De semua ada disini untukku, aku bahagia mereka berkumpul, tapi kembali mataku berat dan kesunyian menyelimutiku.
***
Sejak aku keluar dari rumah sakit bapak berubah 360 derajat. Bapak menjadi pribadi yang lembut pada kami, bahka sekarang Bapak mengijinkanku untuk melukis kembali dan kabar baiknya aku juga masuk sebagai pemenang pendatang baru dalam ajang kompetisi melukis Hardiknas. Aku diundang bertemu Pak Presiden minggu depan ke Istana Negara dan akan berangkat ke Jepang esok harinya. Aku tersenyum pada lukisan milik Doni yang sudah terpajang indah di ruang tamu. Pemilik mobil sedan yang menabrakku datang menjenguk, ternyata ia seorang perempuan warga Negara asing. Dia berasal dari Belanda dan sudah lama menetap di Indonesia, terlihat ia menggandeng seorang anak berusia 5 tahun, seorang bocah laki-laki lucu, bermata biru laut. Anehnya dia berkata “ Harold, ini om Duryodana adik Ayahmu” aku teringat Doni.                                                          
--end--
Keterangan:
1Subak: organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam cocok tanam padi di Bali
2Matekap: Matekap atau membajak lahan pertanian dengan menggunakan tenaga sapi atau kerbau
3Sekar Alit: Sekar alit juga disebut macapat. Macapat dalam bahasa Jawa berarti suatu sistem untuk membaca syair tembang atas empat-empat suku kata. Di Bali tembang macapat sering disebut dengan pupuh yang berarti rangkaian tembang 
4Morfin: Jenis obat yang masuk ke dalam golongan analgesik opium atau narkotik. Obat ini digunakan untuk mengatasi rasa sakit yang terbilang parah dan berkepanjangan.

5Meme: Panggilan orang bali terhadap Ibu

Comments

Popular posts from this blog

4 Langkah Mengubah Kekalahan Menjadi Kemenangan

Mengintip Kesuksesan Pengusaha Kaya Eric Usthavia Frans

Ajeg Bali Dalam Pentas Budaya Anak-anak Puputan Badung